Sejarah & Profil Perkembangan

Belum ada catatan narasi sejarah khusus untuk Santo Simon Petrus Rasul - Taetimu. Informasi pelayanan stasi diperbarui secara berkala oleh pengurus wilayah dan paroki.

Wilayah Teritorial & Lokasi
Desa / Kelurahan-
Kecamatan-
Kabupaten-
Provinsi-
Informasi Tambahan:

Pelindung: Santo Simon Petrus Rasul Tipe lama: Kapela Koordinat: -, - Maps: <iframe src="https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d125771.09276112115!2d124.16042339228125!3d-9.905059395910103!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2c55e680bae544bd%3A0x9c2914ba4908b812!2sKapela%20Taetimu!5e0!3m2!1sid!2sid! Sejarah: Umat katolik Taetimu semata-mata terdiri dari orang Banam atau Amanuban. Hingga tahun 50-an mereka semua masih kafir. Agama katolik masuk ke sini melalui anak-anak jeblosan sekolah katolik. Salah seorang dari antara mereka adalah Kornelis Selan. Bapa dari dua anak ini, masih ingat baik akan situasi hari pertama masuk sekolah katolik di Soe. “Pada tahun 1952 kami duduk di kelas I SR GMIT Lalip. Guru (N) hari-hari pukul kami. Keterlaluan. Kami tidak bisa tahan. Lalu kami cari sekolah lain. Kami bertiga: Markus Banamtuan, Benyamin Isu dan saya, bersama orang tua ke Soe. Orang tua menghantar kami ke SR I. betapa terkejut melihat anak-anak bangsawan. Bapa dari Markus dan kami sendiripun menjadi kecut dan rasa diri kecil. Cepat-cepat kami beralih langkah ke sekolah lain, yaitu sekolah katolik. Kami diterima oleh guru Yohanes Lasi”. Selanjutnya Kornelis yang kini menjadi guru Profil Kapela agama katolik di Taetimu, menceritakan: “Kami berkenalan dengan agama katolik melalui sekolah ini. Lama kelamaan kami merasa tertarik kepada agama katolik, sampai akhirnya kami dipermandikan di kelas III SR. orang tua tidak berkeberatan. Kami boleh memilih agama mana yang kami suka. Kawan lain tidak menamatkan SR. pulang ke kampung dan kembali kepada kekafiran. Saya sendiri berhenti di kelas V. tinggal di kampong dan berusaha tetap pada agama katolik. Setiap hari Minggu saya pergi berdoa di gereja katolik di Benlutu.” Dengan perantaraan anak-anak ini, agama katolik dikenal di kampung Taetimu. Yang duluan mengikuti jejak-jejak anak-anak ini adalah keluarga mereka. Tahun 1958 sudah terhitung 5 orang katolik. Belum ada rumah gereja, sehingga pastor juga tidak pernah pergi ke sana. Tahun 1963 sudah 11 orang masuk. Berkat bantuan seorang pemuda katolik dari Benlutu, Kornelis Koa, pada hari Minggu mereka berdoa dan belajar agama di kampung sendiri. Tidak perlu lagi jalan jauh-jauh ke Benlutu. Orang tua kafir kurang suka masuk. Mereka takut. Baru sesudah tahun 1965 orang-orang kafir minta masuk agama katolik. Tapi ada pihak yang tidak setuju. Calon-calon katolik itu didesak agar melepaskan agamanya. Hal ini terjadi waktu orang tua memasukkan “pentauf” atau upeti kepada Raja, yang juga berjabatan Bupati Kepala Daerah. Chr. Beis sebagai juru bicara yang mengatasnamakan bapa Raja, mengumumkan: “Kami mendengar bahwa ada orang tua lain yang masuk agama katolik. Keluarga kamu, semua protestan. Saya berpartai Parkindo. Kamu partai apa? Tentu partai lain. Kalau kamu anak-anak saya, mengundang saya ke pesta, kita berdoa cara mana? Tentu saya berdoa cara saya. Dan kamu, cara lain. Mengapa kamu tidak turut saya?” Bagi rakyat jelata yang hidup dalam alam feodal, tiap perkataan yang keluar dari mulut raja, punya makna tersendiri. Begitupun juga pertanyaan jubir Raja pada kesempatan itu, bagi pembawa “pentauf” itu punya arti tersendiri. Rasanya dalam pertanyaan itu tersembunyi tuduhan: kamu salah; kamu buat yang bertentangan dengan kemauan Raja. Semua orang kecil tahu apa akibatnya bagi orang-orang yang bertindak lain dari pada yang Raja kehendaki. Karena itu keluarga Seo diam-diam keluar dari agama katolik. Yang lain tetap dalam agama katolik. Satu tekanan lain terhadap kelompok kecil ini terjadi pada tahun 1971 ketika dua keluarga masuk katolik. Mereka dituduh pernah memfitnah agama protestan. Kedua kepala keluarga itu diadukan kepada Puterpra. Setelah diperiksa ternyata tuduhan itu tidak benar. Lalu dilepaskan. Pastor pertama kali mengunjungi kapela Taetimu pada 6-10-1966. Umat telah mendirikan satu kapela darurat. Jumlah mereka tidak banyak. Sering ada anggota jemaat protestan yang keluar dari persekutuan gerejanya dan minta masuk katolik. Tapi dalam pelaksanaan hidupnya lain sekali. Tidak ada semangat. Hari Minggu malas berdoa. Paling-paling kalau sakit minta guru agama datang berdoa. Tidak mau belajar agama. Melihat praktek hidup mancam ini, biasanya majelis dan orang tua-tua bersikap tegas. Nama mereka dicoret dari daftar nama calonParoki Santo Vinsensius a Paulo Benlutu 13 Profil Kapela calon katolik. Pada tahun 1976, umat katolik Taetimu yang berjumlah 80 orang memberanikan diri membangun subuah rumah ibadat semi permanen. Semua rela berkorban. Sama-sama memikul tiang kayu mengangkut pasir dan menanggung makanan untuk tukang-tukang. Beberapa keluarga berpindah ke tempat lain untuk mencari rezeki dan menetaap di desa lain. Jumlah mereka yang kurang itu semakin berkurang lagi. Kelompok umat yang kecil ini hingga sekarang dilayani oleh guru agama Kornelis Selan. Dan pengganti-penggantinya. Nama pelindung masa kini adalah Stu. Simon Petrus Rasul.