Sejarah & Profil Perkembangan
Belum ada catatan narasi sejarah khusus untuk Santo Yohanes Apostolos - Boentuka. Informasi pelayanan stasi diperbarui secara berkala oleh pengurus wilayah dan paroki.
Wilayah Teritorial & Lokasi
Pelindung: - Tipe lama: Kapela Koordinat: -, - Sejarah: Kapela ini terletak pada kilometer 26 dari arah kota Soe-Kupang. Lingkungan alamnya menyenangkan. Betapa tidak? Sepanjang tahun kali Boentuka selalu mengalirkan air yang secukupnya untuk kehidupan manusia, hewan serta tanaman. Tidak heran kalau di mana-mana pada kering dan bergundulan, Boentuka diliputi oleh hijau-kuningnya padi sawah yang membentang sepanjang jalan raya. Bersama Fatumetan, Boentuka merupakan “Kanaan” mini dalam paroki SoE. Penduduk sekeliling Boentuka umumnya adalah orang-orang pelarian dari Oekusi. Mereka menyebut diri suku Beunsila. Kebanyakan datang sebagai orang kafir, namun dalam benak mereka tetap terkenang akan agama katolik anutan nenek moyangnya. Sesampai di daerah baru sebagian masuk agama protestan sedangkan yang lainnya masuk agama katolik. Pembuka agama katolik di Boentuka adalah Wilhelmus Kefi, LelMaunu, Benyamin Sali dan Lu Ote, Semuanya adalah orang buta huruf. Mendengar bahwa di Benlutu ada agama katolik mereka mencari hubungan dengan Zakarias Neon Tali, guru agama pertama Benlutu. Suatu waktu Zakarias dipanggil untuk mendoakan orang sakit, menurut berita dari mulut ke mulut, katanya orang sakit sering kali sembuh mendadak. Entah benar? Wallahu a’lam. Tapi adalah pasti bahwa hal doa-mendoakan orang sakit menggembirakan dan menarik banyak hati. Saat-saat semacam itu Tuhan terasa sangat dekat dengan setiap hati. Pengalaman batin itu menarik mereka kepada Tuhan dan agama katolik yang dianuti oleh orang-orang yang mempunyai bersimpatik terhadap penderitaannya. Begitulah kira-kira mulainya pertumbuhan agama katolik di Boentuka. Umat katolik awal dari kapela ini biasa berdoa Rosario bersama-sama di rumah W. Kefi. Semangat hidup dan kesatuan mereka sangat terasa berkat pengaruh dan usaha bapa Wilhelmus yang sangat aktif. Bapa asal Sabu ini, giat dalam menyebarluaskan agama katolik di kalangan orang-orang kafir. Kira-kira pada tahun 1949 umat katolik Boentuka dikunjungi oleh P. Kersten, SVD dari Kupang. Perlu guru agama. Pilih siapa? Agus Tanu. Pemuda asal kampong Bug ini, pernah menginjak bangku sekolah di daerah asal TTU. Agus Tanu yang sekarang menjabat majelis gereja Boentuka, pada awal tahun 50-an pernah mengajar murid-murid calon katolik sampai 40-an jumlahnya. Sungguh Profil Kapela Hebat. Bayangkan! Dialah Guru Agama kapela Boentuka. Bagaimana bisa mengajar tanpa buku pegangan banyak-banyak? Tidak ada Kitab Suci. Tidak ada buku nyanyian. Tidak ada buku doa? Buku satu-satunya hanyalah katekismus. Sering anggota jemaat protestan yang beralih ke agama katolik menyerahkan buku “Sulat Knino” (= Kitab Suci) dan buku nyanyian protestan kepada pastor. Untuk sementara buku protestan dipakai dalam gereja katolik sebab pastor tidak sanggup menggantikannya dengan buku-buku katolik. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Buat pendalaman iman umat yang semakin menanjak jumlahnya, pastor Kersten mengarang buku “Pedoman guru agama”. Selain iman, soal akhlak juga tidak terlepas dari perhatian pastor, misionaris asal Belanda ini. Tandak atau “Bonet” dalam bahasa Dawannya, dilihat melalui kaca mata pastor sebagai kesempatan yang bisa merusak akhlak orang-orang Dawan, yang cukup lumrah dalam soal kawin-cerai. Makanya P. Kersten bersikap keras. “Wanita yang berlenggaklenggok sambil berdempetan waktu bonet malam hari, dilarang menerima sakramen selama beberapa bulan. Lamanya hukuman tidak ditulis. Sehingga sesudah beberapa tahun tidak seorangpun tahu lagi masih berapa banyak bulan dia dilarang menerima sakramen.” Uskup Pessers SVD dalam kunjungan pertamaya tanggal 28-11-1954 sempat menerimakan sakramen krisma kepada 39 orang katolik. Sekolah. Perlu untuk kemajuan. Juga perlu untuk pengembangan dan pendalaman iman. Membangun masyarakat Boentuka tanpa sekolah sama dengan mengguling gunung batu menuju Soe. Semuannya akan berjalan miring dan lamban. Oleh karena itu, bagaimanapun juga pertama-tama harus dimulai dengan sekolah. Hal ini jelas dilihat dan didasari oleh setiap misionaris yang sudah mengeyam kemajuan di tanah airnya. Sedari permulaan pastor mencari anak-anak supaya bersekolah di SoE. Usaha bagus tapi sulit mengingat orang tua yang sudah merasa kehilangan tenaga kerja masih harus lagi menghantar makanan ke SoE. Supaya keluar dari kesulitan ini dan supaya lebih banyak anak kaluar dari ketertutupan rumah bulat dan melihat suatu dunia lain yang lebih luas dari lingkungan kampungnya, maka pada 19-9-1955 dibukalah SD katolik Boentuka. Kebanyakan orang tua yang sudah merasa puas kalau punya beberapa “puah ma manus” di dalam aluknya, tidak mengerti akan gunanya sekolah. Kepala mereka, yang tunduk-tunduk kalau berhadapan dengan “atoin kase”, sarat dengan ruparupa pertanyaan. Untuk apa anak duduk-duduk saja di sekolah? Supaya maju? Supaya hidup lebih baik? Tidak mungkin. Orang tua, nenek moyang tidak pernah sekolah tapi toh tetap hidup dan tanpa kekurangan sesuatu apapun. Menurut catatan harian 22 tahun lalu, begini kesan pastor: “Hari Minggu. Saya ke Boentuka dengan motor. Sesudah berdoa kami mengundang bapa Temukun…….. orang tua-tua menyampaikan maksud pembukaan sekolah dengan menyerahkan satu botol sopi dan uang. Muka bapa Temukun kelihatan Profil Kapela penuh perhatian dan sangat terkesan. Tanpa banyak dalih bapa Temukun segera menyatakan persetujuannya. Dukungan bapa Temukun ini bukan karena tertarik akan pentingnya sekolah bagi kemajuan kampungnya tapi lebih karena satu botol sopi yang disuguhkan dengan penuh hormat kepadanya. Surat pemberitahuan dikirim kepada Inspeksi. Hari senin pagi saya sewa oto Arombay. Muat beberapa bangku sekolah, kapur, papan tulis, serta guru baru Kamilus Thius. Oto berhenti di Fatumetan. Beberapa anak harus dimuat ke sekolah. Tapi orang tua berkeberatan. Pakaian tidak ada. Untung saya bawa pakaian. Tunggu cukup lama sampai 6 anak dapat ditangkap dan dibungkus dengan pakaian baru. Di Boentuka orang-orang tua kelihatan masa bodoh. Tidak antusias dengan sekolah. Lain daripada yang saya harapkan. Tidak apa-apa. Pagi tadi sekolah dimulai. Ada 13 murid. Beberapa bulan kemudian orang-orang protestan juga mulai membuka sekolah. Tempatnya tidak jauh. Kira-kira 500 meter. Anehnya sekolah yang dibuka belakangan ini dinamakan SD I Boentuka sedangkan SD katolik yang dibuka duluan dinomer-duakan dengan nama SD II Boentuka. Agama katolik mulai berkembang. Tidak heran timbul sedikit pergeseran sana-sini. Misalnya utusan Limamnasi di tahun 1956 melarang anggota jemaatnya berpindah ke agama katolik. Alasannya: Orang katolik berdoa seperti orang kafir. Tepat pada waktu itu janda Elisabeth Kolo masuk katolik. Utusan bersurat kepada pemuka katolik agar mengembalikan ibu itu. Mereka menjawab bahwa ibu itu tidak mau keluar. Selesai persoalan. Dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1958 ada persoalan lain lagi. Pemuda Markus Kollo melamar gadis Frederika Taneo. Utusan baru, Anin protes keras. Atas inisiatifnya diadakan suatu pertemuan istimewa di mana hadir juga penatua dan pamong. Di hadapan banyak orang, utusan memintakan suatu pertanggung jawab dari gadis rika: “Mengapa Rika masuk gereja RK!” Tanya utusan. Rika jawab: “Saya dapat surat dari Markus Kolo dan saya mau mengikuti agamanya.” Sambung utusan injil menegaskan: “Kamu harus kawin di gereja protestan. Rika, dengar baikbaik! Orang tuamu protestan. Kalau kau mau kawin secara katolik, siapa nanti yang mengurusmu ?” Tidak kalah gertak Rika menjawab: “Yang penting bapa saya hadir. Lain-lain tidak perlu.” Persoalan selesai. Frederika menjadi katolik. Suaminya hingga kini bekerja sebagai guru agama Boentuka. Kalau membuka buku permandian paroki soE akan dijumpai satu deretan panjang namanama orang yang berpindah dari agama protestan. Mengapa pindah? Pertanyaan yang selalu berulang. Dan tetap tak berjawab setiap kali pastor menerima orang-orang masuk agama katolik. Pastor palingpaling hanya bisa senyum mengikuti jalan pikiran orang-orang tua tentang perpindahan agama. Mereka memakai logika aneh. Dan lebih aneh lagi bahwa ini diterima oleh kedua belah pihak. Semua terima bahwa yang logis itu benar. Beginilah silogismus Aristoteles versi kampung: Mayor : Pohon kelapa tua tidak dapat menjadi muda Profil Kapela Pohon kelapa muda dapat menjadi tua. Minor : Agama katolik adalah “klei mnasi” (= agama tua!), sedangkan agama protestan adalah “klei makuke ( = agama muda). Ergo : Orang katolik tidak bisa menjadi orang protestan, tapi orang protestan dapat menjadi orang katolik. Umat Boentuka cukup semangat, Rajin ke gereja. Rajin menggarap sawah ladangnya. Sambil bekerja dan mengalirkan air ke sawah mereka juga tetap menaruh harapan pada Tuhan. Harapan itu terungkap dalam bentuk kayu salib yang terpancang di tengah sawah. Panenan umumnya cukup. Paling kurang, sedikit lebih baik dari orang katolik di kapela lain. Tapi sebanyak padi yang masuk ke dalam lopo (lumbung), tidak kurang penyakit yang merusakkan kesehatan jasmani mereka. Angka kematian sangat tinggi. Sejak tahun 1971 SD katolik Boentuka berpindah ke Panmolo, terletak antara Fatumetan dan Boentuka. Rumah sekolah yang sudah reot kemudian diganti dengan satu gedung baru yang semi permanen pada tahun 1973. Umat katolik Boentuka, yang hingga saat ini masih pulang pergi mengunjungi sanak keluarganya di Oekusi, dipimpin oleh guru agama Markus Kolo dan pembantunya Yohanes Suni. Dua-duanya adalah tamatan SD katolik Soe. Menurut dugaan dan perhitungan manusiawi, sebenarnya Boentuka memungkinkan agama katolik bisa mencapai kemajuan yang pesat. Perhitungan meleset. Kenyataan lain. Pewartaan Allah sering dihalang dan dikaburkan oleh kelemahan-kelemahan manusia. Misalnya, Guru agama sebagai pemimpin agama setempat sering tindakannya tidak sesuai dengan ajaran agama dan sangat memberi syak kepada umat. Terpaksa harus diganti. Padahal untuk mengangkat dan membimbing guru agama baru membutuhkan waktu lama. Sementara itu banyak waktu hilang. Rencana kerja berantakan. Inilah pengalaman yang meresahkan selama 25 tahun lampau. Panenan banyak, tetapi penuai sedikit. Nama pelindung masa kini adalah Stu. Yohanes Apostolus. KUTIPAN DARI KRONIK PAROKI SOE 21-3-1953: P. Lecho, SVD berangkat ke Soe dari Noemuti untuk melihat-lihat keadaan. Selama satu minggu menginap di rumag Gerardus Nona asal Nita, Flores. Rumah terletak di pinggir jalan (Kantor Departemen Agama Dati II TTS sekarang!). dia mempunyai satu restoran “Cinta Damai”. 23-3-1953: Dalam Kurban Misa pada hari Minggu ini: 32 mengaku dan 32 orang sambut. Satu anak dipermandikan. 4-4-1953: Saya merayakan Paska di Soe. 66 orang mengaku dan 226 orang sambut selam pesta Paska. Rumah gereja dipakai sebagai sekolah rakyat. Gurunya Yohanes lasi Bobo dari Manufonu. Ia amat popular. Hanya suka sopi sedikit banyak. Rumah gereja beratap seng yang lama. Banyak bocor. Jendela-jendela ditutup dengan seng. Loteng tidak ada. Pintu-pintu dari belek. Dulu guru Teti Tei tinggal di kamar-kamar pasturan. Sekarang guru Y. Profil Kapela Lasi tinggal bersama beberapa anak dari Benlutu di asrama.